Join Our Facebook


Facebook Admin LITING FAMILY


Group Facebook LITING FAMILY
Statistik Pengunjung

- Selamat datang di website Ikatan Sanak Keluarga Liting -

PostHeaderIcon Pangeran Liting

LITING Pangeran Pertama di Sumatera Selatan

 

Sebuah Prestasi! Profil Marga Pegagan Ilir Suku I dan Marga Pegagan Ilir Suku II telah terdokumentasi dengan baik. Dari pemimpin marga pertama hingga yang terakhir, lengkap dengan informasi tahun pemerintahan dan penghargaan yang mereka peroleh. Bahkan silsilah keluarga kepala Marga hingga generasi  ketujuh dapat diketahui dengan mudah karena semuanya terdokumentasi secara rinci. Berbeda dengan marga-marga lain di Sumatera Selatan, yang hampir tidak terdokumentasi. Kalaupun ada, datanya hanya mengupas tentang suku-suku di setiap daerah--yang seringkali dijadikan nama marga.

Pemerintahan Marga adalah Pemerintahan Otonomi Daerah yang diberi kuasa penuh untuk mengatur diri sendiri, mengatur keuangan marga dan punya anggaran. Ya, semacam anggaran yang dikenal dengan nama APBD sekarang. Marga memiliki "Lembaga Perwakilan Rakyat" yang disebut Dewan Marga. Kepala Marga yang disebut Pesirah. Bila seorang pesirah telah lima kali terpilih, maka dia diberi gelar Pangeran. Gelar Pangeran juga diberikan --- di samping sang Pesirah telah memerintah untuk lima periode-- sekaligus karena ia dinilai berjasa kepada rakyat dan Kerajaan.

Akan halnya demikian, dengan H Abdul Chalik, Pesirah Marga Pegagan Ilir Suku II. Ia mendapatkan gelar Pangeran setelah lima kali terpilih dalam Pemilihan Pesirah. Ia merupakan Pesirah Pertama di Sumatera Selatan yang mendapat gelar Pangeran. Beliau di samping Kepala Pemerintahan dan Kepala Adat juga seorang ulama-- padahal sebenarnya tugas khusus pesirah hanya sebagai Kepala Pemerintahan dan Kepala Adat.

Pesirah berhak menjatuhkan hukuman dan denda sesuai dengan perundang-undangan yang berlaku, yaitu Oendang-Oundang Sumber Tjahaja yang disusun keresidenan khusus untuk pemerintahan Marga. Pesirah yang dianugrahi Bintang Besi, seperti Pangeran Liting, berhak menjatuhkan hukuman mati. Akan tetapi dengan kewenangannya itu, Pangeran Liting tidak menjadi semena-mena. Ini terbukti dari rentang masa kekuasaannya yang hampir empat dasa warsa, beliau hanya satu kali menjatuhkan hukuman mati. Yang dijatuhi hukuman mati adalah Ntoel, si pemerkosa sekaligus pembunuh Dare'ah. Ntoel dihukum gantung di bawah pohon asam kumbang. Suatu penegakan hukum yang luar biasa adilnya.

Marga adalah kerajaan-kerajaan kecil. rajanyanya adalah pesirah yang menjadi pemilik tanah saja. Penggarapan ini dikoordinasikan oleh seorang Mata Gawe yang bertanggung jawab sebagai kepala rumah tangga dan kepala rumpun keluarga. Ia bertanggung jawab atas segala penghasilan dusun/marganya. Mata gawe juga wajib membayar pajak.

Sebagai kepala marga, Pesirah diperbolehkan menggunakan cap untuk pemerintahan. Di acara resmi, ia diwajibkan mengenakan pakaian kebesaran layaknya seorang raja. Pakaian kebesaran tersebut berupa "Kopiah Air Emas" yang terbuat dari benang emas dengan lis warna hitam. Payung resminya berwarna merah dengan lis warna kuning, menggunakan kereta kuda sebagai kendaraan dinas. Sang istri yang mendampinginya juga diperbolehkan menggunakan payung dan kereta kuda tersebut.

Pesirah tinggal di sebuah rumah yang sangat besar bersama istri atau para istri dan anak-anaknya. Di Marga Pegagan ilir Suku II rumah itu disebut "Uma Beso". Sayangnya, "keraton" yang menjadi identitas marga itu kini sudah tidak ada lagi. Yang tersisa  hanya bagian dapurnya saja, dan sekarang dikenal dengan nama Rumah Lako (rumah yang belum selesai). Ketiadaan rumah berukuran besar itu diikuti juga dengan hilangnya bukti-bukti sejarah yang ada di dalamnya. Diantaranya Pucuk Palas sepanjang tujuh depa orang dewasa, yang ditemukan Liting menjelang dirinya terpilih sebagai pesirah-- yang mengisyaratkan pemerintahannya yang hingga tujuh turunan.

Benda-benda sejarah seperti kereta kuda, pakaian kebesaran dan bintang-bintang jasa tidak terinventarisasi lagi seiring dengan dibubarkannya pemerintahan marga. Juga arus urbanisasi, di mana hijrahnya sebagian keluarga keturunan Pangeran Liting ke kota-kota. Hanya sebagian kecil saja pakaian kebesaran itu yang terselamatkan dan tersimpan rapi di kediaman HM Kafen Maliani, Putra Pesirah H Malian. Beliau yang merupakan cucu Pangeran Liting ini memang sempat menikmati menjadi saksi sejatrah kejayaan marga pada waktu itu.

Musyawarah Usai Shalat

Pangeran Liting memang merupakan figur tepat untuk memegang tampuk kekuasaan sebagai kepala marga sekaligus Kepala Adat dan Ulama. Dia merupakan sosok yang tegas, lugas namun bijaksana lagi adil serta memiliki ilmu agama yang tinggi. Nilai-nilai sosial dan budaya yang tertata rapi dalam sistem kekerabatan di zaman pemerintahan Pangeran Liting itu patut dijadikan teladan bagi para generasi turunnya.

Pangeran Liting sebagai pemimpin yang mengatur keluarga dan rakyatnya secara adil dan bijaksana. Ia selalu memutuskan segala sesuatu dengan musyawarah dalam suasaa yang religius yang sangat kental, nuansa islami yang kokoh. Sungguh, itu merupakan nilai-nilai yang sangat sesuai dengan kepribadian bangsa Indonesia.

Memanajemeni keluarga yang sangat besar, dengan beberapa istri dan puluhan anak tinggal dalam satu rumah, bukan urusan sederhana. Ini menuntut kepiawaian tersendiri untuk mengaturnya agar aegala sesuatunya terselenggara secara adil dan bijaksana. Pangeran Liting sukses melaksanakan itu. Prestasi ini diakui oleh para cucunya-- yang masih sempat "bertemu" beliau.

Kerukunan dan kekariban yang tulus dirasakan oleh para cucunya. Mereka masing-masing tidak pernah merasa sungkan apalagi merasa iri pada saudara-saudara dari lain ibu atau nenek. Mereka tetap merasa satu dalam koridor kerukunan, yaitu satu keluarga besar, bahkan sangat besar.

Tentu saja kerukunan dapat tercipta tanpa aral yang berarti jika segala sesuatunya diputuskan dengan musyawarah dan mufakat. Pangeran Liting membudayakan musyawarah dan mufakat dalam keluarganya dengan pola tersendiri. Untuk urusan pemerintahan, ia tetapkan waktu musyawarah usai shalat Subuh dan usai shalat Jumat. Selalu diadakan rembuk di Pendopo rumah Pesirah untuk membahas semua masalah, baik masalah pemerintahan maupun rakyat. Juga musyawarah untuk merancang kegiatan dan mendelegasikan tugas yang akan dilaksanakan.

Bukan tanpa pertimbangan matang jika Pangeran Liting memilih waktu untuk berembuk setelah shalat Subuh dan shalat Jumat. Musyawarah usai shalat berjamaah kian mengokohkan suasana islami yang tercipta di lingkungan marga. Lebih dari itu, sang pesirah memang dikenal sebagai pribadi yang alim.

Untuk urusan menuntut ilmu, beliau menyekolahkan anak-anak dan cucu-cucunya hingga ke Mekkah. Pun, semua anaknya bergelar Haji dan Nyiaji (Hajjah). Dia berangkatkan semua anak laki-lakinya menunaikan ibadah haji, kecuali Usman (Mang Tuk). Itu pun karena Mang Tuk masih sangat belia, dan ia juga wafat di usia yang relatif muda. Semua menantu laki-lakinya juga bergelar Haji-- merekalah yang membawa serta para istri (putri-putri Liting) menunaikan ibadah haji.

Memang pada masa itu beribadah haji menjadi tolok ukur ketinggian iman seseorang di samping kemampuan finansial. Maklumlah untuk berangkat haji kala itu membutuhkan perjuangan yang tidak kecil. Akan tetapi, demi menuntut ilmu dan menunaikan rukun islam ke-5, perjalanan ke Mekkah yang memakan waktu berbulan-bulan tidak menjadi halangan bagi keluarga Liting. Pada zaman itu satu-satunya alat transportasi ke Mekkah adalah lewat laut, menggunakan kapal api.

Pangeran Liting mendapat penghargaan dari Keresidenan, berupa anugrah bintang Jasa dan Bintang Besi. ia memerintah hingga 36 tahun lamanya. Satu rentang waktu cukup lama mengemban kepercayaan berupa amanah langsung dario rakyat.

Profil marga ini memang sekedar sejarah kejayaan masa lalu. Sejarah ketokohan seorang Pesirah, buyut kita yang dipercaya menjadi pemimpin marga. Kebanggaan kita akan beliau jadi lengkap, karena Pangeran Liting mampu merangkul keluarga besarnya dalam jalinan silaturrahim yang kuat. Bukankah dengan memahami sejarah, kita bisa mengenal diri sendiri. Kemampuan mengenali jati diri membuat seseorang lebih bijaksana./AF

 

 
Jam
Kalender
December 2017
MTWTFSS
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031
Tinggalkan Pesan
ShoutMix chat widget
Hit Counter