Join Our Facebook


Facebook Admin LITING FAMILY


Group Facebook LITING FAMILY
Statistik Pengunjung

- Selamat datang di website Ikatan Sanak Keluarga Liting -

PostHeaderIcon Sejarah Ikasake

IKATAN SANAK KELUARGA BERDIRI KARENA KEINDAHAN PUNCAK!

Kawasan Puncak di Provinsi Jawa Barat sejak dahulu kala terkenal sebagai salah satu tempat rekreasi terpopuler di tanah air. Pemandangan yang indah ditambah pula dengan kesejukan hawa dan kesegaran udaranya. Adapun Ikatan Sanak Keluarga adalah organisasi keluarga yang telah berdiri sejak setengah abad lalu.. Lantas, apa hubungan Ikatan Sanak Keluarga dan Puncak?

Pada tahun 1954, HA Djalil Haris BBA yang telah bermukim di Ibukota, menggelar pesta pernikahannya. Beramai-ramailah sanak keluarga kita dari Sungai Pinang dan Palembang serta kota-kota lainnya datang ke Jakarta—menghadiri undangan tersebut. Setelah seluruh rangkaian pesta pernikahan itu usai, sanak keluarga kita tidak langsung kembali, melainkan menyempatkan diri untuk berekreasi di Puncak Bogor Jawa Barat. “Luar biasa…!!!” Demikian komentar mereka mengagumi keindahan pemandatangan di Puncak yang menghijau oleh kebun teh. Ekspresi kekaguman pada puncak sontak mengingatkan diri pada daerah asal, Sungai Pinang.

“Pemandangan di Puncak menghijau oleh kebun teh. Sedangkan di lebak (Sungai Pinang), pemandangan hijau membentang adalah hamparan petot (eceng gondok),” demikian hati mereka membatin. Saat itu pulalah tercetus kesepakatan untuk mendirikan organisasi keluarga—tujuannya memberikan sumbangsih bagi kemajuan Sungai Pinang dan kemaslahatan seluruh sanak-keluarga.

Kendati tekad dan kesepakatan sudah bulat, kendala tetap menghadang. Pada zaman itu sanak-keluarga kita yang telah mengenyam pendidikan tinggi baru beberapa orang saja—di antaranya HA Djalil Haris BBA sendiri dan M Sjamsuddin Umar SH. Beruntungnya saat itu, banyak sanak-keluarga kita memiliki pengalaman berorganisasi. Terutama dari organisasi Muhammaddiyah yang telah berkembang pesat di Sungai Pinang kala itu. Kemampuan memanajemeni organisasi inilah jadi modal terbentuknya organisasi keluarga Sungai Pinang—yang warganya banyak merantau ke Palembang, Jakarta dan kota-kota lainnya. Terselenggaralah Kongres Keluarga I di Sungai Pinang tahun 1954 yang melahirkan Ikatan Sanak Keluarga (ISK).

ISK menaungi Badan Pendidikan Keluarga, Badan Sosial Keluarga dan Badan Usaha Keluarga. Realisasi program Badan Usaha Keluarga ini salah satunya adalah terbitnya buku simpanan yang dipegang oleh masing-masing anggota, juga digunakan untuk donatur program pendidikan keluarga, semacam beasiswa untuk sanak-keluarga yang hendak melanjutkan pendidikan. Beasiswa ini sempat dirasakan sangat besar manfaatnya oleh sanak-keluarga kita.

Lima tahun berikutnya, Kongres Keluarga II di Sungai Pinang “mendirikan” Yayasan Keluarga dengan Akte Nomor 54 tahun 1960—yang diterbitkan oleh notaris Tan Thong Kie tanggal 28 Oktober 1960. Dalam akte disebutkan tujuan Yayasan yaitu membantu anggota dan Ikatan Sanak Keluarga dalam menuntut ilmu dengan cara memberikan beasiswa.

Dewan Pengurus Yayasan Keluarga adalah Ketua Kolonel H Animan bin Achyat Liting, H Zainal Arifin (Wakil Ketua), M Zachri (Pantera), Abdul Malik (Bendahara) serta pengurus lainnya  H Sjamsuddin Umar SH, HA Djalil Haris BBA dan Boedenani. Yayasan Keluarga ini berkedudukan di Palembang dengan antara lain Kantor Perwakilan Kertapati, Prabumulih, Baturaja, Kotabumi, Tanjung Karang, Sungai Pinang dan Jakarta-Jawa.

Tanggal 9 Agustus 1965, Kongres Keluarga III diselenggarakan di Balai Pertemuan Sekanak Palembang. Diagendakan perubahan Anggaran Dasar ISK dan pemilihan pengurus yang hasilnya Ketua Kolonel H Animan Achyat, Matjik Rosad (Wakil Ketua I), HM Sjamsuddin Umar SH (Wakil Ketua II), M Zachri (Sekretaris I), H Hifni Zainal (Sekretaris II), Basjaruddin Itjon (Bendahara) dengan kelengkapan kepengurusan diawaki oleh Nadzaruddin Nuh, H Zainal Arifin, H A Yahya, Umar Anwar Living, R Hasanassaari Nuh, H Muhammad, Mahmud Rahmad, Abdul Malik dan Syafei. Karena banyak simpatisan ISK ingin bergabung di organisasi ini, diubahlah kepanjangannya dari Ikatan Sanak Keluarga menjadi Ikatan Sosial Kekeluargaan.

Terbukti bahwa di balik satu peristiwa pasti ada hikmah. Tahun 1965, usai Kongres Keluarga III, ISK sempat mengalami kekosongan agenda—tak terlepas dari kondisi politik dalam negeri ketika itu. Ketika kondisi politik mulai stabil di awal-awal 1970-an, vakum kegiatan itu diisi dengan pengajian bergilir dari rumah ke rumah. Pengajian yang  dibidani H Zainal Arifin ini dinamai IKASAKE dengan makna IKA (satu) dan SAKE (tiang/penyangga) sekaligus akronom Ikatan Sanak Keluarga. Alhamdulillah, Ikasake hingga era 1980-an mampu mempererat silaturahim keluarga besar kita. Hanya sayangnya, kita mengalami kader—untuk meneruskan estafet kepengurusan organisasi—ketika itu, seiring kian sepuhnya usia para pengurus ISK, Yayasan Keluarga dan Pengajian Ikasake sendiri.

Tahun 1990, para sesepuh keluarga kita berembuk kembali untuk mengaktifkan organisasi dan Yayasan Keluarga, terutama guna menyelamatkan aset-aset sejarah—antara lain pemugaran Gubah Pangeran Liting di Tanjung Raja. Tahun itu diaktakan berdirinya Yayasan Liting yang berkedudukan di Jakarta, diketuai oleh H Hifní Zainal. Salah satu realisasi program Yayasan Liting ketika itu, Musyawarah Besar Keluarga di Sungai Pinang pada bulan Desember 1995 dengan agenda antara lain meningkatkan pendidikan, ekonomi, sosial dan budaya keluarga besar Liting. Yayasan tetap menggunakan motto “Mengangkat Batang Terendam” seperti yang dicanangkan pada Kongres Keluarga I.

Satu dasawarsa kemudian, kedudukan Yayasan Liting dipindahkan ke Palembang dengan susunan kepengurusan; Ketua Drs Syaifuddin Azhar,  Ir   Eddy Santana Putra (Wakil Ketua), Drs Rismalyani Nuh (Sekretaris) dan H Chalik Topa (Bendahara). Rapat Pengurus tahun 2005 menetapkan Febuar Rahman SH “mendampingi”  Drs H Syaifuddin Azhar MM (Ketua)—sebagai Ketua Harian—Drs Falex Soeleiman mendampingin Drs H Rismalyani Nuh (Sekretaris) dan Irwan Destra SE MM (Bendahara).

Waktu terus berjalan, sudah lebih dari setengah abad sejak terbentuknya ISK dan lebih dari tiga dasawarsa usia pengajian Ikasake. Syukur kita kepada Allah SWT, bahwa organisasi yang dipelopori oleh tokoh-tokoh keluarga kita—yang sebagian besar telah Almarhum—tetap eksis. Ikasake terus menyelenggarakan pengajian dan arisan yang diselenggarakan sebulan sekali dari rumah ke rumah. Bahkan kini tengah diupayakan pembelian mobil ambulans.

Demikian juga halnya dengan Yayasan Liting, tetap melaksanakan program tahunannya melaksanakan Pertemuan Keluarga, pemugaran Gubah yang telah memasuki tahap II dan penerbitan majalah Media Keluarga. Sudah menjadi tekad kita semua, dan tengah diupayakan oleh para pengurus, agar manfaat Yayasan dapat lebih dirasakan dan dinikmati oleh sanak-keluarga dan masyarakat pada umumnya.

 
Jam
Kalender
September 2017
MTWTFSS
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930 
Tinggalkan Pesan
ShoutMix chat widget
Hit Counter