Join Our Facebook


Facebook Admin LITING FAMILY


Group Facebook LITING FAMILY
Statistik Pengunjung

- Selamat datang di website Ikatan Sanak Keluarga Liting -

PostHeaderIcon Sejarah

 

 

ABDUL CHALIK (PANGERAN LITING)

Masa Pemerintahan 1872-1908

 

Legenda Marga Pegagan Ilir Suku II (Sungai Pinang) berdasarkan penyelidikan H.Z. Arifin Malian Pembarab (Wakil) Pasirah Marga Pegagan Ilir Suku II Periode tahun 1943 sampai dengan tahun 1945 dibantu oleh H.M. Kafen Malian anak bungsu dari Pangeran Haji Malian.

 

Bismillahirrohmanirrohim

Sekedar untuk dimaklumi oleh generasi penerus, semoga ada manfaatnya dan istimewa untuk menjadi pedoman dalam mewujudkan hubungan silaturrahmi antara keluarga dan jangan sampai terkena pantun asli Marga Sungai Pinang yang berbunyi :

Ketak ketok nebang samak

Samak ditebang idak luke

La retok ngangkan sanak

Sanak diangkan idak suke

Marga Pegagan Ilir Suku II ini didirikan lebih kurang pada tahun 1870 Masehi berkedudukan di dusun Sungai Pinang dikepalai dan dipimpin oleh seorang Pasirah (Pak Sirah) yang sebelum itu dipimpin oleh seorang Jenang berkedudukan di Talang Pegadungan atau Talang Balai sekarang di sekitar tepi Sungai Risan Jenang.

Pasirah pertama sebagai pengganti Jenang Talang Balai dan berkedudukan di Sungai Pinang sebagai Kepala Marga Pegagan Ilir Suku II berturut-turut sebagai berikut :

 

 

Depati (Adipati) Depati Wujud memangku jabatan selama 1 tahun 8 bulan.
Depati Onong memangku jabatan selama 8 bulan.
Depati Bahar memangku jabatan selama 6 bulan.

Depati / Pangeran


Abdul Chalik Liting gelar Pangeran Wirakrama memangku jabatan selama 36 tahun (1872 – 1908).

Depati / Pangeran


H. Malian Chalik Liting gelar Pangeran Wirajaya memangku jabatan selama 19 tahun.

Depati


H.M. Nur Malian memangku jabatan selama 5 tahun.

Depati / Pembarab Depati H.Wajidun Mazni.
Depati Depati Talib Achyat.
Depati Depati H.Hambali Achyat.
Depati H. Djemahir dari Ulak Kerbau
Depati / Pj. Pasirah H. Muhammad Nur jabatan ke-dua kali.
Depati H. Djemahir II
Depati S i h a r
Depati A. Malik
Depati Ishak Ibrahim
Depati H.A. Zaro’i Zen
Depati Syakroni
Depati H.A. Kadir Idin

Marga dan jabatan Pasirah ini dibubarkan oleh Gubernur Sumatera Selatan dengan Surat Keputusan tanggal .................... dan Nomor ..................... maka habislah riwayat Pasirah (Th. 1983) dengan Pasirah terakhir H. A. Kadir Idin.

Sebelum ada Pasirah Marga Pegagan Ilir Suku II ini, pemerintahan dikepalai oleh “Jenang” kedudukannya di Talang Pegadungan di sekitar Risan Jenang dusun Talang Balai langsung di bawah Kesultanan Palembang.

Pada masa pergantian pemerintahan Kesultanan, maka Jenang pun berganti menjadi Pasirah, dalam masa transisi maka Jenang ini masih terus dipakai.

Pasirah pertama di Sungai Pinang sebagai ganti Jenang di Talang Balai dijabat oleh Depati Wujud yang mengepalai Marga Pegagan Ilir Suku II selama 1 tahun 8 bulan.

Setelah Depati Wujud berhenti, maka Pasirah dijabat oleh Depati Onong selama 6 bulan.

Pasirah ke-III dijabat oleh Depati Bahar yang memangku jabatan sebagai Pasirah selama 8 bulan.

Pasirah ke-IV dijabat oleh Abdul Halik / Liting dengan gelar Pangeran Wirakrama memangku jabatan sebagai Pasirah / Pangeran selama 36 tahun dan digantikan oleh anaknya yang bernama Haji Malian.

Pada permulaan Abdul Halik / Liting akan diangkat menjadi Pasirah, Wakil Pemerintah (Controleur) mengumpulkan rakyat pedusunan dalam marga untuk memilih Pasirah, maka tuan Controleur itu memberitahukan bahwa sekarang kita akan memilih Pasirah baru karena Pasirah lama telah berhenti, dan bagaimana dengan kamu siapa yang bagus dijadikan Pasirah ? Semua orang yang hadir menjawab bahwa yang bagus dijadikan Pasirah hanya Liting tula tuan.

Kenapa kamu memilih Liting ? Dijawab lagi bahwa Liting itu orangnya lurus, bisa menulis dan membaca. Controleur itupun bertanya lagi mana itu orang bernama Liting, semua orang menoleh ke kiri kanan tapi Ia (Liting) tidak kelihatan, dan dikatakanlah bahwa Liting sekarang sedang pergi ke kebun / sawahnya mengambil kayu, dan orang ramai pun pergi ke sawah menemui Liting dan mengajaknya pulang karena dipanggil untuk dijadikan Pasirah.

Liting menjawab pertanyaan-pertanyaan tuan Controleur bahwa ia tidak pandai menulis baca huruf Latin dan ia hanya pandai huruf Arab dan surat ulu saja, dan Liting pun diangkat menjadi Pasirah sedangkan kayu yang dibawa dari kebun tadi disimpan di rumah dan Liting pun menjabat Pasirah selama 36 tahun.

Adapun batang pohon Palas yang didapatnya dari kebon tadi disimpan di atas loteng Uma Beso dan terbawa ke dusun Sirah Pulau Padang bersamaan dengan pemindahan rumah beso tersebut.

Pangeran Liting selama dalam jabatannya sebagai Pasirah Marga Pegagan Ilir Suku II cukup harum namanya dipandang dari mata rakyat, pemerintahannya dan oleh atasannya. Karena selama beliau memegang tampuk Pemerintahan Marga, beliau telah berhasil dari Pasirah diangkat menjadi Pangeran dan mendapat Tanda Jasa Bintang Emas, Tongkat Berkepala Emas dan terakhir mendapat Bintang Besi.

Salah satu usahanya yang terbesar adalah mengepalai pembikinan dan penggalian Terusan Bujang sejak dari hulu dusun Talang Balai menuju ke Ketapang dan dari situ langsung menuju ke Pemulutan Hilir melurus yang lebarnya ketika itu dibuat hanya dua setengah meter saja.

Terusan ini dikerjakan oleh rakyat secara bergotong royong terdiri dari orang tua / muda serta bujang gadis dan dinamakanlah terusan ini “Terusan Bujang”, sedangkan Sungai Ogan asli yang berbelok-belok menuju Dusun Suka Pindah, Ulak Kerbau, Kerinjing, Suka Raja, Mandi Angin, Arisan Gading, Lubuk Sakti, Tanjung Gelam, Tanjung Agung, Tanjung Sejaro, Saka Tiga terus ke kanan menuju Muara Penimbung, Talang Aur, Talang Pangeran, Ulak Kembahang dan sampai ke Pemulutan Hilir hingga bertemu dengan Terusan Bujang yang dikerjakan secara gotong royong dengan istilahnya turunan ayam tadi.

Sungai Ogan asli ini semakin hari semakin dangkal dan penuh pasir sedangkan Terusan Bujang yang lurus itu airnya sangat deras dan menjadilah sungai yang mengalirkan air Sungai Ogan masuk ke Terusan Bujang dan mengairi sawah di sekitar kiri kanannya menjadi subur sejak dari Dusun Kota Daro, Ketapang, Jagolano, Rantau Panjang, Sejangko, Batun, Keman, Kijang, Sirah Pulau Padang, dll. Sawahnya menjadi sangat subur dan hasil padinya terkenal dengan sebutan “Beras Pegagan” dari Palembang. Inilah satu jasa yang sangat berkesan bagi rakyat dan tidak dapat dilupakan oleh orang yang merasakan kenikmatannya.

--------end--------

 
Jam
Kalender
December 2017
MTWTFSS
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031
Tinggalkan Pesan
ShoutMix chat widget
Hit Counter