Join Our Facebook


Facebook Admin LITING FAMILY


Group Facebook LITING FAMILY
Statistik Pengunjung

- Selamat datang di website Ikatan Sanak Keluarga Liting -

PostHeaderIcon Pangeran Haji Malian

Pangeran Haji Malian

Haji Malian dengan gelar Pangeran “W i r a j a y a” Pasirah Marga Pegagan Ilir Suku II ke-5 menggantikan ayahnya Pangeran Liting dipilih langsung oleh rakyat pada tahun 1908 dan karena telah tua dan uzur beliau meletakkan jabatannya pada tahun 1927, berhenti dengan hormat digantikan oleh anaknya Depati Haji Muhammad Nur.

Pangeran Haji Malian berpendidikan di Makkah Saudi Arabia sejak usia muda bertempat di Syi’if Ali Makkah untuk memperdalam pengetahuan di bidang Agama Islam, dan ketika kembali ke Tanah Air beliau telah membawa 2 orang putri dari 2 orang istri, yaitu istri pertama meninggal dunia di Makkah dengan seorang anak, dari istri kedua mendapatkan seorang anak pula. Sehingga pada saat kembali ke tanah air membawa dua orang anak yang masih balita.

Haji Malian menggantikan ayahnya menjadi Pasirah Marga Pegagan Ilir Suku II adalah seorang kyai yang terkenal di Marganya dan sekitarnya. Walaupun beliau memangku jabatan sebagai Pasirah yang selalu direpotkan oleh pekerjaannya, beliau masih menyempatkan diri untuk berda’wah dan mengadakan pengajian-pengajian, cawisan di dusunnya dan di dalam marganya.

Pangeran Haji Malian adalah murid dan bimbingan Syech Umar Sumbawa di Syi’if Ali Makkah ini sangat disegani dan ditakuti oleh orang yang sering melakukan kejahatan dan pencurian, karena dengan ilmunya beliau dapat membuktikan apakah orang itu yang mencuri atau bukan. Walaupun tadinya si pencuri itu tidak mau mengakui perbuatannya tetapi kalau telapak tangannya sudah dipegang, kalau mereka itu yang mencuri maka dari telapak tangannya akan keluar asap dan si pencuri itu akan menjerit kesakitan dan mengakui perbuatannya. Tetapi kalau mereka itu bukan pencuri tentu mereka tidak akan merasakan apa-apa. Beliau pun dapat melumatkan ilmu-ilmu orang yang kebal dan tahan pukul itu.

Salah satu kebiasaan beliau adalah mengunjungi dusun-dusun di dalam Marga Pegagan Ilir Suku II pada hari-hari yang telah ditetapkan, kalau dusun itu dapat ditempuh dengan berjalan kaki beliau lakukan dengan naik perahu tenda. Sambil menuju ke rumah Kerio beliau memeriksa keadaan kebersihan dusun dan sesampainya di rumah Kerio beliau telah ditunggu rakyatnya untuk mendengarkan ceramah dan cawisan dari beliau dan apabila kunjungan ini dilakukan pada hari Jum’at beliau pun menjadi Khotib dan Imam Shalat Jum’at di dusun yang dikunjunginya.

Pendidikan agama bagi keluarganya sangat diperhatikan oleh beliau, diantaranya tiga orang anak beliau dimasukkan pendidikan sekolah agama, seperti H.M. Yahya disekolahkan ke Al Irsyad Jakarta, H. Zainal Arifin disekolahkan ke Makkah Saudi Arabiah dan sekolah Jamiatul Khair di Jakarta dan H. Hadi Maliani di sekolahkan ke Madrasah Al Munawar Palembang, sedangkan anak-anak perempuannya disekolahkan ke sekolah Al Islamiyah Tanjung Raja. Pada saat usianya telah tua beliau pun mendirikan sekolah Al Islamiyah di Tanjung Raja dengan mendatangkan guru-guru dari Palembang yang berpendidikan di Makkah Saudi Arabia.

Kebiasaan beliau membimbing keluarga besar sangat bagus dan patut ditiru dan diteladani oleh anak cucu beliau sepeti setiap hari setelah menunaikan sholat subuh di masjid bersama dengan saudara kandung, adik-adik ipar dan keluarga lainnya. Beliau berkumpul di pendopo rumahnya yang dihadiri oleh H. Saat, H. Muzir, H. Madian, H. Achyat, H. Hadin, H. Endeng (Ismail) dan lain-lain termasuk Wak Gincik, sambil menikmati kopi panas beliau lebih akrab lagi membicarakan hal ihwal keluarga dan pemerintahan, rencana apa yang akan- dikerjakan hari ini selalu beliau kemukakan dan meminta pendapat dan saran serta nasihat dari keluarga.

Bagi angkatan mudanya pun sebelum berangkat menuju ke sekolah di Tanjung Raja dengan menggunakan perahu tenda, mereka ini pun berkumpul dahulu seperti H. Somat, H. Umar, H. Yasin, H. Wajidun, H. Haris, Akib, A. Kadir, dan lain-lain mereka serasan dan sekata sehingga akrab sekali.

Pada setiap pulang dari shalat Jum’at Pangeran H. Malian mengajak saudara-saudara dan misannya untuk makan siang bersama di rumah beso, setelah makan siang bersama barulah saudara, ipar dan misannya ini kembali ke rumah masing-masing. Kebiasaan ini juga masih terasa dan dilakukan juga oleh anak beliau Depati H. M. Nur dan tak ketinggalan pula keluarga kita H. Amak dan lain-lain.

Demikianlah kisah singkat Pangeran H. Malian semoga ada manfaatnya bagi angkatan muda dan anak cucu sekalian sampai ke buyut-buyutnya.

 

 
Jam
Kalender
September 2017
MTWTFSS
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930 
Tinggalkan Pesan
ShoutMix chat widget
Hit Counter